Feeds:
Pos
Komentar

Disampaikan oleh ukhti Rusyda (ummu Madina), 20 April 2016, MTRI

Pendahuluan

happy-muslim-family-cartoonIslam datang ke dunia membawa seperangkat aturan untuk memastikan kehidupan manusia berjalan sesuai dengan fitrah dan membawa kebahagiaan bagi manusia dunia dan akhirat. Aturan tersebut berlaku baik untuk laki-laki maupun perempuan, untuk orang dewasa maupun anak kecil. Mengasuh anak merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT terhadap hamba-hambaNya. Pada saat yang sama pengasuhan anak juga merupakan satu manifestasi dari berbagai bentuk kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia yang menjadi makhluk yang paling mulia. Allah swt berfirman “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al Isra (17):70).

Lanjut Baca »

Disampaikan oleh Ukhti Hazimah (ummu Fayyaz), 29 juni 2016, MTRI

Puasa: Agar Menjadi Taqwa

images (4)

Puasa Ramadhan diwajibkan kepada kita disertai dengan hikmah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Allah SWT berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡڪُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِڪُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah (2):183).

Lanjut Baca »

Disampaikan oleh Ummu Madina (Ukhti Rusyda), 04 Mei 2016, MTRI Parry Park

Mukaddimah

images (3)

Bulan Rajab adalah salah satu bulan mulia, yang telah Allah Ta’ala sebutkan sebagai asyhurul hurum (bulan-bulan haram). Maksudnya, saat itu manusia dilarang (diharamkan) untuk berperang, kecuali dalam keadaan membela diri dan terdesak. [1]

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram …” (QS. Al Maidah (95): 2)

Lanjut Baca »

images (2)

Ramadhan adalah bulan ibadah dan bulan menundukan hawa nafsu, bulan taqarrub, penghambaan dan pengorbanan kepada Dzat Pencipta, agar terbentuk pribadi yang taqwa dan siap taat kepada Allah SWT. Akan tetapi, faktanya tidak demikian. Ramadhan demi Ramadhan berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan yang signifikan pada kondisi dan pemahaman umat ke arah kebaikan.

Lanjut Baca »

Disampaikan oleh ukhti hazimah (ummu khansa), 27 april 2016, MTRI parry park

images (1)Cantik, modis, berpendidikan tinggi, punya penghasilan sendiri, barang-barang bermerek, dan hidup mandiri, seolah menjadi syarat mutlak untuk bisa disebut sebagai seorang perempuan modern. Gaya hidup yang dikelilingi oleh food, fun and fashion ini pun telah diadopsi oleh sebagian kalangan muslimah di berbagai negeri. Tak jarang aturan-aturan syariat pun ditabrak sana-sini demi predikat muslimah modern.

Lanjut Baca »

 (Disampaikan oleh Ukhti IIN Ummu Zaid,MT.Raudhatul Ilmi,11 Mei 2016,Parry Park)

 

eating1Pendahuluan

Islam adalah agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia. Diantaranya adalah mengatur hubungan manusia terhadap dirinya sendiri- hablumbinafsi. Seperti masalah pakaian, akhlaq dan juga masalah makanan. Makan dan minum merupakan salah satu kebutuhan penting manusia dalam memenuhi hajatul udhowiyah (kebutuhan jasmani) yang berupa rasa lapar dan haus. Sehingga akan muncul Eating Habits atau kebiasaan-kebiasaan makan yang bervariasi.

Lanjut Baca »

'syaban

 

BULETIN AN-NISSA EDISI MEI 2016

Sya‘ban adalah bulan ke-8 dalam Hijriah, terletak antara 2 bulan yang dimuliakan yakni Rajab & Ramadhan. Bulan Sya’ban adalah bulan yang disukai untuk memperbanyak puasa sunah. Dalam bulan ini, Rasulullah saw. memperbanyak puasa sunah. Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunnah. Dari Aisyah ra.berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156). Dalam riwayat lain Aisyah ra. berkata: “Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah saw. untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649). Dari Ummu Salamah ra. berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293). Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

 

Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

 

Bulan kelalaian

Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah saw. memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

 

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Wahai Rasulullah saw., kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau saw. menjawab

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan.Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

 

Bulan menyirami amalan-amalan shalih

 

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat urgen sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinu. Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman.Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan.Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai. Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

 

Bulan persiapan menyambut bulan Ramadhan

 

Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. Untuk mengisi bulan Sya’ban dan sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang selayaknya dikerjakan oleh setiap muslim.

 

Luruskan Niat

 

Sesungguhnya setiap amal tergantung niat.  Demikianlah pesan Rasulullah saw.yang sering kita dengar.  Maka, marilah kita pastikan bahwa semua amalan di bulan ini (dan tentunya di bulan-bulan lainnya) diniatkan ikhlas karena Allah SWT dan untuk mengharap ridha-Nya semata.  Puasa dan sahur yang berat, tidur yang teramat singkat dan tenaga yang begitu terkuras, bahkan jihad meski harus berpuasa tidak lain dilakukan agar Allah SWT menggolongkan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang bertaqwa.  Setiap muslim dilarang mengharapkan nilai materi dari semua itu.  Jika hal ini yang terjadi, maka ibadahnya menjadi sia-sia belaka.

Allah SWT berfirman :

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al Anaam: 162)

 

Bersihkan Jiwa dengan Taubat

 

Tanpa jiwa yang bersih, niscaya kita akan merasakan beratnya menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Demikian pula, kita akan merugi jika kita memasuki bulan berkah ini, sementara masih banyak kemaksiatan atau kemunkaran yang dilakukan. Oleh karena itu, sebelum memasuki bulan mulia ini, hendaklah kita berserah diri dan bertaubat  kepada Allah SWT.  Selanjutnya, di bulan Ramadhan kita berusaha untuk melaksanakan berbagai kebaikan yang tentunya nilainya akan dilipat gandakan.

 

Gali tsaqofah Islam

 

Sebelum Ramadhan tiba, alangkah baiknya jika kita mempelajari kembali tsaqofah atau hukum-hukum seputar puasa dan berbagai amalan yang disyariatkan di bulan Ramadhan.  Hal ini bertujuan, agar kita memahami betul status hukum semua perkara yang dilakukan di bulan Ramadhan.  Dengan ilmu ini pula, kita tidak akan ketinggalan satu peluang kebaikan pun.

Memiliki ilmu tentang amalan di bulan Ramadhan menjadi fardhu ‘ain (kewajiban individu) setiap muslim.  Tanpa ilmu, ibadah bisa sia-sia, karena bisa jadi tidak sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT.

 

Banyak Berdoa

 

Sungguh, kekuasaan Allah SWT jauh di atas hamba-hamba-Nya.  Oleh karena itu, marilah kita memperbanyak berdoa kepada Allah SWT agar Dia berkenan memberikan kemudahan kepada  kita dalam menjalani berbagai amalan di bulan mulia ini.  Kita tentu tidak menghendaki Ramadhan datang sementara fisik dan mental kita dalam keadaan tidak siap.  Semoga Allah SWT menjauhkan segala aral dan memberikan kemampuan lahir dan batin dalam malalui Ramadhan.

 

Kencangkan Dakwah

 

Dakwah Islam harus selalu dikencangkan, apalagi menjelang Ramadhan. Inilah kesempatan kita untuk memngingatkan kembali agar umat menjalani kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, menyeru manusia ke jalan Islam, menentang kebijakan penguasa yang bertentangan dengan Syariah Islam dan mengajak manusia agar bersiap menyambut tamu agung ini adalah aktivitas penting yang harus semakin dikencangkan.  Sebab, jika umat tidak siap memasuki Ramadhan maka akan sia-sialah harapan agar umat kembali ke jalan Islam dengan datangnya Ramadhan.

 

Khatimah

 

Untuk mengoptimalkan kesempatan langka ini, hendaklah kita menyusun rencana aktivitas dan target capaiannya.  Beberapa rencana kegiatan tersebut misalnya; tadarus dan tadabbur al Qur’an, mempelajari buku-buku ke-Islaman, mengikuti atau bahkan merancang  training ke-Islaman, menyantuni fakir-miskin, amar ma’ruf nahi munkar dan lain-lain. Bagi pengemban dakwah, penyusunan rencana kegiatan menjadi hal yang sangat urgen. Pasalnya, Ramadhan menjadi saat yang paling spesial. Mengapa?  Karena pada bulan ini, umat pada umumnya berada pada tingkat ghirah Islam yang cukup tinggi.  Maka kecermatan para pengemban dakwah untuk menangkap dan menyalurkan ghiroh Islam tersebut sangat diperlukan.  Inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak umat kembali ke jalan Allah SWT dan memuliakan agama-Nya. Alokasi waktu yang berbeda dibandingkan hari-hari di luar Ramadhan juga dimanfaatkan oleh para pengemban dakwah untuk merancang aktivitas memperkaya tsaqofah dan kemampuan untuk berdakwah.  Memperbanyak dirosah fardiyah (belajar mandiri) atau berguru kepada ustadzah untuk mempelajari berbagai tsaqofah Islam, atau membaca buku-buku, menghafal ayat al Qur’an dan Hadits, hingga menghadiri majlis-majlis taklim, adalah sebagian dari aktivitas yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengemban dakwah.

Semua itu membutuhkan perencanaan matang, agar saat Ramadhan tiba, segala persiapan telah dilakukan.  Tinggallah menjalankan dan mengevaluasi, apakah targetnya telah terpenuhi.

 

“Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan” (HR. Ahmad & At-Tabrani)